hehehehe
Masa orientasi siswa, di negara ini, yang katanya menjunjung tinggi toleransi dan dipandang memiliki nilai ketimuran yang tinggi, identik dengan tindak kekerasan, ya walaupun di balut unsur pengenalan lingkungan sekolah, tapi ujung ujungnya selalu memakan korban. Kisah klasik sih, bukankah dari dulu selalu seperti itu, lalu mengapa baru sekarang seolah olah pemberitaan ini menyudutkan satu pihak. Negara kita sudah terbiasa dengan yang namanya "sudah biasa, ah itu kan wajar, dan sebagainya". Masa orientasi yang seharusnya lebih mendidik, nyatanya dari jaman bambu runcing hingga jaman pistol otomatis nyatanya selalu memakan korban. Ah itu kan wajar, sudah biasa, dari dulu juga seperti itu pelaksanaannya. Kira kira seperti itu jawaban dari salah satu pihak seolah tak ingin disalahkan. Lucunya, kegiatan ini selalu berulang setiap tahunnya.
Disinilah awal munculnya benih dendam yang akan mengakar dalam diri siswa baru. Kesempatan akan datang di tahun depan. Mental pendendam, bukan mental pemenang. Itulah mengapa mental siswa siswa di negara ini menjadi mental tempe yang bisanya hanya tawuran, nongkrong ga jelas, membolos di jam sekolah, seakan itu sudah menjadi hal yang lumrah di negara ini. Itulah mungkin jawaban mengapa banyaknya pengangguran di negeri yang katanya kaya ini. Cobalah tengok di beberapa lembaga pendidikan, berapa banyak siswa yang serius menganggap sekolah tempat mencari ilmu dan berapa banyak siswa yang menganggap sekolah hanya ajang mencari pergaulan, ajang berlomba lomba menjadi yang paling keren di antara yang lain. Malu katanya kalo sekolah ga gaya, ga bawa motor, bahkan menjadi aib jika sekolah ga bawa mobil.
Menyedihkan memang, sekolah hanya dianggap sebagai ajang mencari pergaulan.
Ga penting pinter yang penting populer terkenal di seantero sekolah.
pemikiran ndablek, pemikiran sebagian besar siswa di negara ini, bahkan mungkin pemimpin nya memiliki pemikiran yang sama, makanya negara ini jadi sarang korupsi, sarang berkembang biaknya SDM yang bermoral ga lebih dari seorang pecundang,,,
Maka sekali lagi, adalah hal yang wajar jika banyak aset negara di kelola pihak asing,
kira kira apa jadinya ya jika aset sendiri di kelola oleh anak bangsa jika di sekolahnya hanya mencari kepopuleran dan lebih banyak bergaya,,,,???
Tolong kalo ada yang punya jawabannya kasih tau saya ya,,,,
Salam,
Mr. Gie
Tidak ada komentar:
Posting Komentar