Selasa, 28 Juli 2015

Pagi yang tak cerah

Pagi ini ditemani secangkir kopi aku mengambil posisi duduk di sudut kantin. Sambil menghirup dalam aroma kopi yang terasa begitu nikmat, seorang rekan menghampiriku. Tak terasa obrolan kami tampak begitu santai, sesekali terlihat raut wajah yang menunjukkan kecemasan, namun seperti yang ia bilang, nikmati aja namanya juga hidup.

Dia orang bekasi, beristrikan orang malang. Ia banyak bercerita tentang awal karirnya, sampai akhirnya ia bisa terdampar disini, dengan ribuan karyawan lainnya. 8 tahun bekerja tanpa pernah merasa di hargai, itu yang membuatnya sangat kecewa. Namun tak sekalipun ia mengeluh akan keadaan, karena ia tau, mengeluh tak ada gunanya. Bukan dya ternyata orang yang paling tidak di hargai, ia bercerita ada rekannya sesama karyawan dengan pendidikan D3, karena persaingan yang tidak sehat, akhirnya harus rela pindah ke bagian General Affair.

Ternyata dunia kerja sudah seperti persaingan para politisi, rela melakukan apapun demi sebuah jabatan. Tapi satu hal yang aku pelajari dari perbincangan di pagi ini, tetap bersyukur dalam kondisi apapun, itu intinya, tetap bersyukur.

Tuhan terima kasih atas setiap nafas yang kau berikan kepadaku, buanglah pikiran negatif yang ada dalam hidupku,,,
mencoba berjalan lurus di dunia yang kejam ini,,,

Ternyata pagi tak selamanya cerah, ia menyimpan mendung di sisi lain. Tergantung kita menyikapinya, mau menjadikannya sebagai peneduh atau justru sebaliknya merutuki pagi yang tak selalu bersinar terang,,,,

Mr.gie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar